SEKILAS SEJARAH SMP NEGERI 40 SEMARANG

LOKASI :

SMP Negeri 40 Semarang yang berlokasi di Jl. Suyudono No. 130 RT. 04, RW. 04 masuk dalam wilayah Kelurahan Barusari Kecamatan Semarang Selatan, yang juga berseberangan dengan perkampungan di wilayah Kelurahan Bulustalan, Kecamatan Semarang Barat. Dengan luas tanah 7.240 m2 yang terdapat bangunan utama yang merupakan bangunan cagar budaya rumah tempat tinggal peninggalan zaman Belanda berarsitektur Eropa Langgam Barok dan sedikit eklektik.

PENGGUNAAN (SEMULA/SEKARANG) :

  • SEMULA : Rumah tinggal dari seorang Belanda yang bernama Wanike (Ka), bangunan terdiri dari 2 bangunan utama dengan sebagian besar bangunan berlantai 1, kecuali bangunan inti yang berlantai 2 yang membentuk sudut. Massa bangunan inti menonjol keluar, bangunan dengan langgam barok dan sedikit eklektik ini diselesaikan dengan detail-detail yang cukup beragam. Pondasi bangunan dari batu dengan sistem struktur dari bata, dinding terbuat dari bata, lantai bangunan diangkat kira-kira 50 cm dari tanah dan berlantaikan batu marmer. Bentuk atap pada bangunan inti berupa limasan yang ditutup dengan genting. Bagian depan bangunan terdapat gunungan sehingga menyerupai arsitektur klasik, bagian pintu masuk ditutup dengan atap pelana. Sedangkan bangunan di sampingnya diberi tambahan atap yang didukung oleh konsul-konsul besi yang beragam hiasan.Pintu masuk berupa dua gerbang yang melengkung di atasnya, dan bagian atap lantai 1 digunakan teras bagi lantai 2 yang menghadap ke lapangan rumput (lapangan Garnisun Kalisari), yang dahulunya sering digunakan untuk pacuan kuda. Dari sinilah konon, pemilik rumah dapat menonton pacuan kuda. Oleh karena itu, di sekitar bangunan dulu ada bangunan yang digunakan ruang praktik mesin (kala-ST), dan ruang kelas (kala-SMP) dengan sebutan kelas kandang kuda.
  • ARTI PENTING : Bangunan Utama SMP Negeri 40 ini menunjukkan integritas langgam dan kekriyaan arsitektur yang tercermin dari gaya campuran dari pengaruh Barok, indische. Tradisonal dengan meniru kolonial dengan detail yang beragam. Letak/lokasi bangunan ini, agak menjorok ke dalam dari jalan raya utama, yaitu Jl. Sutomo, yang terdapat beberapa bangunan cagar budaya ; Rumah sakit dr. Karyadi, Rumah sakit Tentara, Gereja/SMP PL. Dominiko Savio, Lawang Sewu dan dekat pula dengan jalan Bojong. Pada saat Semarang dikuasai oleh pemerintah Kolonial Belanda, pemerintahan telah membangun Jl. Bojong yang berpola diagonal, sehingga struktur Kota Semarang berkembang menjadi kota berstruktur Eropa, oleh karenanya Kota Semarang sering disebut dengan “ Little Netherland”.
  • SEKARANG : berdasar tulisan di beberapa prasasti dan di beberapa dokumen, sekolah yang berada di jalan Suyudono No. 130 Semarang merupakan Sekolah Teknik Negeri (STN 6-7) yang memiliki tiga jurusan: mesin (pabrikasi), listrik (kelistrikan), dan kayu (bangunan). Ini perkembangan dari lembaga pendidikan yang semula bernama Sekolah Teknik Pertama (STP II) yang kali pertama berdiri pada 1 Juli 1952.Perubahan dan dari perkembangan penggabungan sekolah teknik dengan nama Sekolah Teknik Pertama I (STP. I) yang dahulunya di Jalan Dr. Cipto No. 121 Semarang bergabung menjadi satu dengan STP. II yang berada di jalan Suyudono No. 130 Semarang. Dari STP. I ini kemudian beralih fungsi menjadi Sekolah Teknik 6 (ST 6) dan berpindah lokasi ke Jl. Suyudono No. 130 Semarang, dan bergabung menjadi satu gedung dengan ST 7 yang semula (STP. II). Penggunaan satu gedung/ kelas yang sama dan penggabungan dua lembaga Sekolah Negeri, yaitu STN 6-7 di jalan Suyudono No. 130 Semarang berlangsung dari tahun 1976 sampai tahun 1994. Seiring dengan perkembangan zaman serta perubahan kebijakan pemerintah dengan adanya program pelaksanaan wajib belajar 9 tahun, maka dipandang perlu pada tahun 1994 seluruh Sekolah Teknik di Indonesia berubah dan beralih fungsi menjadi SMP tak terkecuali ST 6 beralih fungsi menjadi SMP 36 dan ST 7 beralih fungsi menjadi SMP 37 yang juga masih menggunakan satu gedung dan berlokasi di Jl. Suyudono No. 130 Semarang. Penggabungan SMP 36 dan SMP 37 sempat meluluskan beberapa angkatan. Di tengah perjalanan penggabungan dua SMP tersebut, muncul kebijakan pemerintah dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk memisahkan dan menempati gedung eks STN dan eks SMEA. Selanjutnya SMP 37 mendapatkan surat keputusan dari Kepala Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang beralamatkan di Jl. Sompok 43 A yang merupakan peralihan dari STN. 2-3, sedangkan SMP 36 mendapat surat keputusan Kepala Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan No. 3033/I.03/TU/96, mulai tanggal 16 Juni 1996, SMP 36 Semarang menempati lokasi baru, yaitu di Jl. Plampitan No. 35 Semarang yang merupakan penggunaan gedung eks SMEA Negeri di jalan Plampitan.Dan di Jalan Suyudono No. 130 Semarang yang dalam perjalanannya berasal dari peralihan STP. II ke ST 6-7 dan berubah menjadi SMP 36-37, yang selanjutnya menjadi lembaga sekolah dengan nama SMP 40 Semarang. Di dalam SMP 40 terdapat gedung cagar budaya dengan golongan/type C dengan No. 42 berdasar ketetapan Pemerintah Kota Semarang Tahun 1992.Pada tahun 2000 saat dicanangkan Program Pendidikan Dasar 9 tahun, SMP Negeri 40 Semarang berubah menjadi SLTP Negeri 40 Semarang dan pada tahun 2005 berganti lagi menjadi SMP Negeri 40 Semarang hingga sekarang. Pada saat ini, SMP Negeri 40 Semarang tetap mempertahankan bangunan utamanya sebagai bangunan “cagar budaya”.Dan di Tahun 2008 melalui penetapan Kementerian Pendidikan Nasional, No. 1393/C.3/DS/2008 tanggal 09 September 2008 SMP Negeri 40 Semarang ditunjuk sebagai Sekolah Standar Nasional (SSN). Dan berdasar itu pula, melalui lembaga standarisasi penilaian penjamin mutu Pendidikan Nasional SMP Negeri 40 terakreditasi dengan nilai “A”.

Nama-nama Kepala Sekolah yang pernah memimpin SMP Negeri 40 sebagai berikut :

No Nama Mulai Berakhir Keterangan
1. Soegijono, B.Sc. - - -
2. Thomas Dartojo 1985 1996 -
3. Sarkam Siswanto (ymt) Maret 1995 Juni 1995 -
4. Drs. Sumarno 1995 1996 -
5. Sumardi Sri Purwono 1996 2001 -
6. Drs. H.M. Slamet 2001 2005 -
7. Dra. Cicilia Sri Maryuni, MM 2005 2012 -
8. Sri Puji Marimah Yuliana, S.Pd., M.Pd. 2012 2015 -
9. Dra. Rani Ernaningsih 2015 - Masih bertugas hingga saat ini